pariwisata kota surabaya

Ujung-Kamal Harus Direvitalisasi

  Dibaca : 138 kali
Ujung-Kamal Harus Direvitalisasi
space ads post kiri

* Dari Hasil Diskusi Forum Maritim

Keterpurukan layanan ferry Ujung-Kamal menjadi tinggal “menghitung hari” atau “Hidup segan Mati tak Mau” akibat pengoperasian Jembatan Suramadu (JSM) sejak beberapa tahun lalu, dan kini diperparah dengan penurunan tarif tol sejak Februari 2016 ……

Subsidi jembatan harus pula diberikan pada ferry, terutama melalui perubahan status lintasan “komersial” menjadi lintasan “pelayanan” melalui skema Public Service Obligation (PSO).

Sehingga penyeberangan Ujung-Kamal harus direvitalisasi. Demikian rangkuman diskusi Forum Maritim yang diadakan Minggu lalu di Rektorat ITS.

Menurut Ketua Forum Maritim Jatim, Daniel Rosyid, kebijakan penurunan tarif tol jembatan Suramadu ditempuh atas usulan tokoh-tokoh Madura dan diperkuat oleh kajian Universitas Trunojoyo Madura (UTM) yang kemudian diajukan oleh Gubernur Jatim pada Presiden.

Penggratisan sepeda motor dan pemotongan hingga 50% tarif mobil sudah diberlakukan. Ini diharapkan meningkatkan minat berkegiatan di Madura.

Akan tetapi hal itu tidak terjadi peningkatan angkutan barang ke Madura secara berarti, karena tarif tol untuk truk masih dianggap tinggi. Yang terjadi adalah peningkatan kunjungan penduduk Madura ke Surabaya. Diharapkan ada penurunan tarif lagi untuk angkutan barang.

Badan Pengembangan Wialayah Surabaya-Madura (BPWS) membutuhkan dana perawatan dan pengamanan Jembatan dari kerusakan maupun vandalisme. JSM termasuk obyek vital dengan teknologi yang rentan pada kerusakan degeneratif. Pemantauan kesehatan jembatan perlu dilakukan terus menerus.

Pemkab Bangkalan menginginkan, layanan ferry Ujung-Kamal tetap ada karena memiliki faktor sejarah yg panjang dan masih dibutuhkan oleh masyarakat Kamal dan Kab. Bangkalan, termasuk kampus UTM.

Kawasan pembantaian kapal yang tidak banyak menyerap tenaga kerja dan merusak lingkungan akan diubah menjadi kawasan wisata.

UTM berpandangan, Kamal perlu dikembangkan menjadi kawasan wisata. Rancangan konsepnya sudah disiapkan. Ini bisa mencakup wisata budaya, religi maupun kuliner.

Sementara, menurut tokoh Madura H. Achmad Zaini, menjamin bahwa layanan ferry akan dipertahankan karena memiliki nilai sejarah yang penting. Telah diajukan gagasan pengembangan Kota Kamal untuk menyiapkan Madura sebagai provinsi baru pemekaran Jawa Timur.

Disisi lain Pelindo III telah menyiapkan kawasan Kalimas sebagai kawasan heritage zone dan marina. Pelayaran rakyat akan tetap difasilitasi. Masterplan Pelabuhan Tanjung Perak, Gresik dan Bangkalan perlu segera disetujui oleh Pemkab Bangkalan untuk segera bisa diputuskan dan dilaksanakan.

Semua upaya pembangunan Madura hendaknya melibatkan partisipasi masyakarat Madura dan UTM khususnya agar tidak berhenti di wacana saja. UTM diminta untuk mendorong mahasiswanya agar menciptakan kegiatan2 event yg menarik kunjungan wisata ke Kamal dan Bangkalan.

Masyarakat Kamal dan Bangkalan harus berubah lebih kreatif dan sehat untuk meningkatkan investability kawasan ini. Pembangunan Surabaya harus melibatkan Bangkalan dalam kerangka Greater Surabaya.

Tata ruang pesisir Surabaya, Bangkalan dan Gresik dalam perspektif UU Pesisir dan Perda Rencana Zonasi Pesisir yang akan direvisi perlu segera diselesaikan agar tidak terjadi konflik pemanfaatan dan kewenangan.(kip)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional