pariwisata kota surabaya

Pengacara Ngotot Kasus Wiyang Kecelakaan Tunggal

  Dibaca : 285 kali
Pengacara Ngotot Kasus Wiyang Kecelakaan Tunggal
ANTRI: Wiyang saat menunggu giliran sidang. (and)
space ads post kiri

Setelah dituntut lima bulan penjara potong masa tahanan, pengemudi Lamborghini Wiyang Lautner melakukan pembelaan. Pembelaan itu tertuang dalam sidang dengan agenda pleidoi (pembelaan) di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Dalam pledoi itu, kuasa hukum Wiyang mengatakan bahwa kecelakaan pada akhir November itu merupakan kecelakaan tunggal. Lamborghini Gallardo yang dikendarai Wiyang tak langsung menabrak korban.

“Mobil menabrak trotoar terlebih dahulu. Itu kecelakaan tunggal yang membuat mobil tidak terkendali,” ujar Ronald Napitupulu saat membacakan pleidoi di Ruang Sari I PN Surabaya, Rabu (16/3).

Jika Lamborghini menabrak warung STMJ, kata Ronald, yang pada akhirnya membuat korban tewas dan terluka itu adalah di luar kendali Wiyang.

Karena saat menabrak trotoar, kantong udara (air bag) terbuka sehingga menutupi pandangan Wiyang. Wiyang juga tak ingat apakah ia menginjak pedal rem ataukah gas.

“Meski begitu, terdakwa masih berupaya keras meluruskan kemudi agar tidak menabrak. Ini adalah kejadian yang sama sekali tidak dikehendaki,” kata Ronald.

Ronald juga menegaskan, kecepatan dan kondisi mobil bukanlah faktor penyebab kecelakaan. Faktor penyebab kecelakaan adalah jalan yang tak rata dan kondisi permukaan jalan dari kering ke basah. Akibat kondisi itu, ban mobil selip dan menabrak trotoar.

Kondisi Lamborghini yang dikendarai Wiyang, ujar Ronald, dalam keadaan prima karena baru saja diservis. Kecepatan menurut Ronald juga tidak ngebut. Menurut saksi ahli Andrys Ronaldi dari PT Artha Auto Lamborghini Jakarta, kecepatan Wiyang sebelum menabrak adalah 50-70 km per jam.

Keterangan dari anggota Traffic Accident Analyst (TAA) Ditlantas Polda Jatim Aiptu Andik Suroso dianggap Ronald tidak sah karena saat sidang berlangsung, kapasitas Andik adalah saksi ahli, padahal saat itu jaksa seharusnya menghadirkan saksi fakta. Andik sendiri menyebut jika kecepatan Lamborghini adalah 95,2 km per jam.

Keterangan dari seorang sopir taksi yang berada di belakang Lamborghini di saat kejadian juga dianggap tidak valid. Sopir taksi itu hanya mengira-ngira kecepatan mobil sport itu.

Setelah kejadian, Wiyang tidak berusaha kabur. Pria 24 tahun itu, kata Ronald, justru menolong korban dan segera melaporkan bahwa ia mengalami kecelakaan.

Dan pembelaan yang paling penting di sini, lanjut Ronald, adalah keluarga korban dan terdakwa sudah berdamai.

“Keluarga korban sudah mendapat uang santunan, biaya pendidikan, premi asuransi, dan anak korban mendapat kerja,” terang Ronald.

Ronald sendiri menyamakan kasus Wiyang dengan kasus kecelakaan yang dialami anak Hatta Rajasa, Rasyid Amrullah Rajasa pada 2013 lalu.

Saat itu Rasyid mengalami kecelakaan dengan dua korban tewas. Rasyid divonis lima bulan dengan masa percobaan enam bulan. “Kasusnya sama-sama kecelakaan tunggal yang menyebabkan korban,” jelas Ronald.

Pada akhirnya Ronald meminta agar majelis hakim bisa memutuskan yang seadil-adilnya. “Mohon keadilan yang seringan-ringannya dan seadil-adilnya,” pungkas Ronald.

Setelah pledoi, sidang akan diteruskan dengan agenda putusan atau vonis. “Sidang berikutnya pada 23 Februari 2016,” tukas Hakim Ketua Burhanudin. (and)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional